Rumah Fiqih Indonesia
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-Anfal : 10
Al-Anfal 8 : 10
Mushaf Kemenag RI hal. 178
Kemenag RI 2019: Allah tidak menjadikannya (bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Prof. Quraish Shihab: Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira (bagi kamu) dan agar hatimu merasa tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Prof. HAMKA: Dan, tidaklah Allah menjadikan bantuan itu, melainkan sebagai berita gembira dan supaya tenteramlah dengan dia hati kamu; dan tidaklah ada kemenangan melainkan dari sisi Allah; se sungguhnya Allah adalah Mahagagah lagi Bijak sana.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Ayat ke-10 dari surat Al-Anfal ini meneruskan cerita di ayat sebelumnya, dimana hasil istighatsah Nabi SAW dan kaum muslimin sebelum pecah perang Badar dijawab dengan cara dikirimkan kepada mereka seribu malaikat yang datang berturut-turut.

Di ayat ini Allah SWT sebutkan apa peran dari seribu malaikat itu, yaitu untuk menjadi kabar gembira bagi Nabi SAW dan para shahabat yang ikut dalam Perang Badar. Tentu saja agar hati mereka menjadi lebih tenang.

Selain itu Allah SWT menegaskan bahwa kemenangan itu datangnya dari Allah. Sebab Allah SWT itu Maha Perkasa sekaligus Maha Bijaksana.

***

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ

Makna wa maa (وَمَا) adalah: dan tidaklah. Makna ja'ala-hu (جَعَلَهُ) adalah: menjadikannya atau Dia menjadikannya. Makna allaahu (اللَّهُ) adalah: Allah.

Al-Farra menyebutkan bahwa dhamir hu (ـهُ) disini kembali kepada kedatangan para malaikat, yaitu irdaf , ketika para malaikat itu datang berbondong-bondong dan berbaris rapi membentuk barisan yang panjang.

Makna illaa (إِلَّا) adalah: melainkan atau kecuali. Makna busyraa (بُشْرَىٰ) adalah: sebagai kabar gembira.

Az-Zajjaj mengatakan bantuan malaikat tersebut terjadi melalui pemberian kabar gembira. Para malaikat itu  datang bukan untuk berperang, tapi demi untuk membesarkan hati para shahabat yang ikut dalam perang Badar itu.

Mereka berpendapat bahwa kedatangan 1000 malaikat itu bukan untuk ikut berperang melawan 1000 lawan dari jenis manusia. Karena pasti tidak akan seimbang. Sebab logika kita akan mengatakan cukup satu malaikat saja, sudah bisa meluluh-lantakkan barisan lawan. Hanya dengan satu helai bulu sayapnya, Malaikat Jibril mampu membinasakan kota-kota kaum Luth.  Hanya dengan dengan satu pekikan saja, negeri kaum Tsamud dan kaum Shalih binasa.

Ibnu Abbas meriwayatkan pada Perang Badar Nabi SAW duduk di dalam tenda sambil berdoa. Abu Bakar duduk di sebelah kanannya, tidak ada orang lain bersamanya. Beliau SAW sempat tertidur sejenak, tiba-tia Beliau SAW menepuk paha Abu Bakar dengan tangan kanannya seraya bersabda :

أبْشِرْ بِنَصْرِ اللَّهِ ولَقَدْ رَأيْتُ في مَنامِي جِبْرِيلَ يَقْدَمُ الخَيْلَ

'Bergembiralah dengan pertolongan Allah! Sungguh, aku melihat Jibril dalam mimpiku memimpin pasukan berkuda.'

Semua ini menjadi dasar pendapat mereka yang mengatakan bahwa kedatangan malaikat bukan untuk berperang, tapi untuk memberi semangat. Ibarat kesebelasan sepak bola lagi bertanding, maka di deretan penonton duduk ribuan supoter yang terus menerus memberi semangat.

***

وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ

Makna wa litathma'inna (وَلِتَطْمَئِنَّ) adalah: dan agar merasa tenteram. Makna bihii (بِهِ) adalah: dengannya. Makna quluubukum (قُلُوبُكُمْ) adalah: hati-hati kamu.

Hal itu mengingat sejak awal mental mereka sebenarnya agak down, alias kalah mental dan sempat pesimis. Bukan apa-apa, sebab tiba-tiba saja di luar ekspektasi awal, mereka harus berhadapan dengan pasukan yang jauh lebih besar, dengan senjata yang lengkap, logistik yang jauh lebih berlipat, bahkan ingin menjadikan perang ini sebagai ladang pembantaian mereka.  Terbayang betapa ciutnya hati mereka saat itu. Sudah terbayang bahwa Perang Badar ini akan menjadi kuburan massal bagi mereka.

Maka di saat itu Allah SWT mendatangkan barisan para malaikat yang meniupkan semangat juang, mengobarkan kembali semangat jhad dan menjadikan peperangan ini seimbang, bahkan menjadi di atas angin.

***

وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

Makna wa maa (وَمَا) adalah: dan tidaklah. Makna an-nashru (النَّصْرُ) adalah: pertolongan itu. Makna illaa (إِلَّا) adalah: melainkan atau kecuali. Makna min 'indi (مِنْ عِنْدِ) adalah: dari sisi. Makna allaahi (اللَّهِ) adalah: Allah.

Jika bantuan malaikat hanyalah kabar gembira untuk menenangkan hati, maka hakikat kemenangan tetap berada sepenuhnya dalam genggaman kedaulatan Allah. Dia-lah yang mengatur kapan pertolongan itu harus diturunkan, kepada siapa ia diberikan, dan melalui cara apa ia dimanifestasikan.

Meskipun para malaikat telah turun untuk menyertai orang-orang beriman, seorang mukmin tetap wajib untuk tidak menyandarkan hatinya kepada bantuan tersebut. Sebaliknya, ia harus menyandarkan ketergantungannya hanya kepada pertolongan Allah, kemenangan-Nya, petunjuk-Nya, dan kecukupan-Nya.

Walaupun pasukan musyrikin di atas kertas jauh lebih unggul dalam jumlah personel maupun perlengkapan tempur, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kalkulasi materi bukanlah penentu akhir dari sebuah pertempuran. Allah melalui ayat ini seolah-olah sedang memutus ketergantungan hati manusia dari sebab-sebab fisik yang kasatmata.

***

إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Makna inna (إِنَّ) adalah: sesungguhnya. Makna allaaha (اللَّهَ) adalah: Allah. Makna 'aziizun (عَزِيزٌ) adalah: Maha Perkasa.

Allah SWT adalah Tuhan yang Yang Maha Perkasa, sebutannya adalah Al-‘Aziz. Tentu tidak akan pernah dikalahkan. Tuhan yang memiliki kekuatan mutlak dan tidak ada kekuatan lain yang mampu menghalanginya atau mengalahkannya.

Nama Allah yang satu ini ditempatkan untuk menyimpulkan bahwa jika Allah telah memutuskan sebuah kemenangan bagi hamba-Nya, tidak ada kekuatan di muka bumi ini yang mampu membatalkannya. Meski jumlah musuh seribu lebih dan bersenjata lengkap. Allah SWT adalah pemilik otoritas tertinggi (al-’izzah) yang membuat segala hitungan matematika manusia menjadi tidak relevan.

Makna hakiimun (حَكِيمٌ) yang berarti ketepatan, kebijaksanaan, dan pengaturan. Segala tindakan-Nya didasari oleh ilmu yang sempurna dan tujuan yang tepat.

Nama ini menjawab mengapa bantuan Allah tidak selalu datang dengan cara yang sama. Allah bijaksana dalam kapan Dia harus mengirim malaikat, kapan Dia harus menurunkan hujan untuk memadatkan tanah, dan kapan Dia harus membiarkan musuh merasa jemawa sebelum akhirnya diporak-porandakan. Semuanya dilakukan dengan perhitungan yang presisi, bukan karena emosi atau kebetulan.

***

 

   

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐