Nama asli beliau Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal. Syaikh Abu Zahrah dalam bukunya Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah menuliskan biografi Imam Ahmad, bahwa nama Hanbal itu bukan nama bapaknya, dan ini yang sering kita salah pahami tentang beliau.
Awalnya, sebelum kelahiran Imam Ahmad, keluarganya berdiam di negeri Khurasan. Tetapi menjelang kelahiran Imam Ahmad keluarga ini berpindah ke Baghdad. Untuk kemudian disanalah Imam Ahmad dilahirkan, pada tahun 164 H.
Singkat cerita kehidupan Imam Ahmad dimulai, belajar, belajar, dan belajar, lalu menikah, punya anak, menjadi imam besar, lalu kemudian menjadi pendiri madzhab hambali.
Ada hal yang cukup menarik dari cerita tentang beliau, yaitu cerita tentang sumber pendapatan beliau. Kita tahu bahwa para ulama kita dulu rata-rata pekerja keras, bukan orang yang senang meminta dan bukan pula orang yang senang menerima begitu saja.
Setelah membuka beberapa refrensi tentang beliau, kita mendapati bahwa sumber pemasukan Imam Ahmad ternyata dari hasil sewa rumah yang dikontrakkan. Dan rumah itu adalah hasil waris dari orang tua beliau.
Keren juga ya, ada ulama yang punya kontrakan. Apalagi jika kontrakannya seperti orang betawi sekarang ini, yang jumlahnya bahkan sampai beratus pintu. Mungkin itu seperti ATM jenis “gedor”, tiap akhir bulan gedor pintu-pintu itu, keluar deh duitnya.
Punya kontrakan iya, tapi ternyata tidak banyak, dan tidak menghasilkan banyak harta dari sana. Mungkin hanya cukup untuk makan, minum serta kebutuhan asasi keluarga beliau. Kesibukan beliau dalam dunia ilmu pengetahun telah membuat beliau memilih hidup sangat sederhana, dengan bukti bahwa pemasukan utamanya hanya dari kontrakan yang sedikit itu.
Juga seandainya ada kebutuhan lainnya, maka beliau juga tetap keukeuh tidak mau meinta-minta dari muridnya, tapi beliau akan menempuh salah satu dari 3 (tiga) cara berikut:
1. Berhutang
Beliau berusaha untuk berhutang dengan orang yang baik-baik, agar harta yang dihutangkan jelas halalnya. Dan biasanya beliau tidak berhutang pada saat bepergian, mungkin salah satu alasannya agar hutang itu mudah untuk dikembalikan. Beliau lebih memilih berhutang ketimbang mendapatkannya dengan hadiah atau sedekah.
2. Bekerja
Beliau tidak malu untuk bekerja sebagai penjahit misalnya, atau mengambi upah dari jasa penulisan. Ini semua dilakukan agar tidak menghinakan diri dengan meminta atau terlalu banyak menerima sedekah dari orang lain.
3. Mencari Makanan Sisa
Biasanya ini dilakukan dengan memungut beberapa makanan yang sudah tidak diambil lagi oleh tuannya, atau memungut beberapa beras jatuh yang sudah tidak diambil lagi oleh tuannya. Dan ini beliau lakukan atas sepengetahuan yang punya, karena beliau juga tidak mau sembarang ambil, sehingga kehalalan itu sangat terjaga.
Inilah sekilas tentang ekonomi Imam Ahmad, kesibukannya mencari ilmu dan mengajarkannya untuk umat membuatnya memilih untuk hidup sangat sederhana. Beliau mengajarkan tentang kaidah kehidupan agar jangan terlalu banyak makan dari tangan orang lain, terlebih jika mereka adalah ulama.
Semoga Allah SWT memberikan kekayaan kepada beliau diakhirat kelak atas apa telah beliau kerjakan di bumi ini, bahkan tidaknya hanya itu kita juga mendoakan beliau juga untuk ulama-ulama lainnya agar kelak mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT.
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
"Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan rezeki halal-Mu untuk menjauhi yang haram dan cukupkanlah diriku dengan karunia dari-Mu sehingga tidak memerlukan selain Engkau.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)
Wallahu a’lam bisshawab